Muncar Pertahankan Peralatan Tradisional

Sunday, June 17th 2018. | Wisata

 


ADA kampung unik di Banyuwangi, perkampungan nelayan fishing di Muncar. Nelayan yang mendiami daerah pantai ujung timur Jawa ini hidup bebuyutan menjadi pelaut. Uniknya lagi, nelayan di sini sampai kini menolak memakai peralatan modern, walaupun bisa membeli yang super canggih sekalipun, Mereka berharap, Selat Bali satu-satunya sandaran hidup mereka tetap menghasilkan ikan sepanjang zaman. Rasa sayangnya kepada laut, seolah melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri. Kelestarian Selat Bali demi masa depan anak-cucu inilah yang menjadi penyebab mereka menolak memakai peralatan modern.Mereka hidup di sepanjang pantai yang membentang sejauh lebih dari 50 km arah tenggara kota Banyuwangi. Mereka mendiami beberapa desa di pesisir, menyerupai Tembokrejo dan Kedungrejo, dua desa yang paling banyak ditempati nelayan. Kedungrejo, hampir 90% masyarakatnya hidup sebagai nelayan.

Ini Kampungku Muncar , awalnya dulu nelayan Muncar mencari ikan memakai bahtera tradisional yang sangat sederhana. Mereka berangkat malam hari dan pulang keesokan paginya. Perahu ini hanya bisa berlayar di sekitar daerah Selat Bali, tepatnya di bersahabat perairan Sembulungan. Dulu, mereka hanya memakai dayung sebagai tenaga penggagas perahu. Alat tangkapnya sederhana, terbuat dari pancing dan jaring kecil. Ketika itu, nelayan Muncar tidak pernah kesulitan mendapatkan ikan dalam jumlah besar. Tiap kali melaut, membawa pulang ikan satu bahtera penuh,

Teknologi gres yang mulai ditawarkan disambut antusias. Tahun 1963, yakni tonggak beralihnya nelayan tradisional menjadi sedikit modern. Perahu nelayan berubah sedikit besar. Mereka mulai mengenal bahtera slerek yang berukuran besar dengan panjang sekitar 7 meter. Namun, mereka masih tetap memakai dayung. Hasil tangkap kala itu maksimal 3 kuintal ikan.Tahun 1972 alat tangkapnya bertambah modern. Ukuran bahtera slerek makin besar. Dayung mulai ditinggalkan dan diganti tenaga mesin tempel. Alat tangkap jaring berkembang menjadi raksasa dengan ukuran 29 x 100 meter. Mesin yang dipakai masih bertenaga bensin. Satu bahtera maksimal ditempeli dua mesin. Jarak tempuhnya maksimal 50 km dari bibir pantai dengan daya angkut ikan 5 ton.

Perahu Slerek Muncar

Tahun 1974, mereka mempunyai alat tangkap ikan jenis purse seine, Bass Fishing dengan kemampuan daya tangkap 15 ton. Jaring yang dipakai berukuran dua kali lipat dari sebelumnya. Karena mahalnya peralatan, dikala itu bahtera dengan peralatan purse seine hanya 11 buah. Pembelian peralatan itu ditangani KUD Mino Blambangan sebagai pemilik modal kapal.Keberadaan kapal modern ini tidak bertahan lama. Satu tahun kemudian muncul konflik di Muncar. Ditengarai ada diskriminasi donasi modal dari KUD, nelayan jadinya menggelar agresi protes. Beberapa bahtera slerek milik KUD dibakar massa. ‘’Akhirnya kami berinisiatif membeli bahtera sendiri dengan cara patungan sesama nelayan,’’ kenang H. Nikmat, salah seorang nelayan senior di Muncar.

Membludaknya hasil tangkapan ikan, menciptakan perkembangan ekonomi nelayan Muncar meningkat pesat. Slerek gres dengan ukuran besar dan peralatan canggih saling bermunculan. Tenaga motor penggagas berkembang menjadi mesin diesel dengan kekuatan lebih besar. Satu bahtera bisa memakai 4-5 mesin diesel berkekuatan 30 pk. Perahu ini bisa mengangkut ikan sampai 30 ton dengan jumlah ABK 50-60 orang. Selama puluhan tahun, nelayan Muncar terus dimanjakan dengan melimpahnya hasil tangkapan ikan.Tahun 1997 persoalan muncul. Seiring menipisnya hasil tangkapan ikan, datanglah sejumlah nelayan andon dari Tuban dan Lamongan. Awalnya, mereka tidak terusik dengan datangnya nelayan andon yang mempunyai alat tangkap jauh lebih canggih. ‘’Kala itu jumlah mereka tidak lebih dari 11 kapal,‘’ ungkap Nikmat.

Merasa ikut dimanjakan oleh perairan Selat Bali, jumlah nelayan andon terus bertambah. Hanya dalam hitungan bulan, jumlahnya mencapai 45 kapal, bahkan tahun 2001 mencapai 140 kapal, Membludaknya nelayan andon, menjadi kerikil sandungan besar bagi nelayan Muncar. Nelayan andon dinilai mencaplok lahan penghidupan nelayan lokal yang lebih dulu hidup di sana. Konflik tak bisa dihindari. Puncaknya, nelayan Muncar menggelar agresi demo di kantor DPRD Banyuwangi tahun 2001. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyetujui tuntutan mereka yang meminta dipulangkannya nelayan andon dari perairan Muncar.

Pantai Muncar

Nelayan andon dituding mengeruk habis ikan-ikan di perairan Selat Bali. Mereka memakai jaring homogen pukat harimau yang bisa mengeruk semua ikan banyak sekali ukuran. “Sejak kedatangan nelayan andon, hasil tangkapan kami rata-rata turun sampai 75%. Jika mereka terus dibiarkan di Muncar, mau makan apa anak cucu kami,” keluh H. Nikmat.Nelayan lokal dan nelayan andon mempunyai cara tangkap berbeda. Nelayan lokal dengan peralatan tradisional menentukan menangkap ikan dengan tanpa lampu. Nelayan andon justru memakai lampu terang-benderang. Lampu yang terperinci konon justru membunuh mata pencaharian nelayan lainnya.

Ikan itu sukanya di tempat gelap. Kalau ada lampu ia akan berdiam di sana. Makara hanya nelayan andon yang bisa menangkap ikan. Nelayan lokal hanya gigit jari,” ujarnya., Kenapa nelayan lokal tidak membeli alat tangkap menyerupai andon? Pertanyaan ini dijawab senyuman oleh H. Nikmat yang mengaku telah puluhan tahun menjadi nelayan. Ia mengatakan, bekerjsama nelayan Muncar bisa membeli peralatan yang lebih canggih dari nelayan andon.

Sebelum kedatangan nelayan andon, investor Korea Selatan dan Jepang pernah menawari kolaborasi donasi alat tangkap yang paling canggih. “Kami menolaknya. Alasannya, nelayan di sini bukan orang-orang rakus yang hanya mementingkan kehidupan sekarang. Jika kami memakai peralatan supercanggih yang terus mengeruk hasil laut, terus anak cucu kami nantinya menikmati apa,” ucapnya berapi-api.Pandangan inilah yang mendorong nelayan Muncar tetap bertahan dengan peralatan tradisional dalam mencari ikan. Mereka lebih mengedepankan naluri dan kebersamaan ketika turun ke laut. Mereka selalu berpikir bagaimana memperlihatkan warisan yang baik berupa kekayaan maritim kepada generasi penerusnya.

Hasil Tangkapan kian Menurun

DATA Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi menyebutkan jumlah nelayan di Muncar 10.707 orang dari keseluruhan jumlah nelayan di Banyuwangi, 18.839 orang. Yang dipakai 2.444 bahtera banyak sekali jenis dan ukuran ada bahtera besar yang dikenal dengan sebutan slerek, paying, gillnet, pancing, bagan, sero, sotok. Perahu slerek paling menerima perhatian nelayan Muncar. Pasalnya, bahtera ini mempunyai alat tangkap jenis purse seine yang bisa menangkap ikan dalam jumlah besar.

Tiap tahun hasil tangkapan ikan di perairan Selat Bali kian menurun. Penelitian yang dilakukan pemerintah setempat bersama instansi terkait mencatat, hasil tangkapan ikan cenderung memperlihatkan grafik menurun. Tahun 1982, tercatat 66.000 ton, tahun 2004 hanya 4.000 ton per tahun. Penurunan yang sangat tajam ini dikategorikan pada angka E = 0,91. Angka ini memperlihatkan kondisi yang sudah memprihatinkan. Dalam perhitungan ilmiah, angka ini pertunjuk kondisi yang berbahaya. Jika mencapai angka 1 berarti telah terjadi pemusnahan menyeluruh terhadap ikan-ikan di Selat Bali. ‘’Penyebabnya, adanya eksploitasi yang over pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,‘’ kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi, Ir. Puji Raharjo.

Salah satu penyebab turunnya hasil tangkapan ikan yakni masuknya nelayan pendatang yang dikenal dengan nelayan andon. Nelayan andon yang memakai alat tangkap menyerupai pukat harimau disinyalir telah melaksanakan eksploitasi hiperbola di perairan Selat Bali. Bukan hanya ikan besar yang ditangkap, tapi semua jenis ikan kecil gampang terjaring. Nelayan andon, lanjut Puji Raharjo, bekerjsama tidak dibolehkan beroperasi di Selat Bali. Kenyataannya mereka tetap berkeliaran di sini. Jika hal ini dibiarkan ikan di Selat Bali akan habis lantaran proses perkembangbiakannya terputus.

Menurunnya hasil tangkapan juga dipengaruhi rusaknya terumbu karang yang menjadi tempat tinggal segala ikan. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan penggunaan alat-alat beracun menyerupai bom dan zat kimia lainnya.

Pemkab Banyuwangi telah mengambil beberapa langkah kebijakan, di antaranya mengadakan perbaikan terumbu karang di Selat Bali yang membentang sepanjang 175 km. Untuk mengembalikan fungsi lahan di daerah pesisir, pemerintah kembali menggalakkan penanaman pohon bakau. “Kami juga melarang nelayan andon ikut menangkap ikan di Selat Bali,” tambah Puji Raharjo. – udi

Belantik ikan Muncar

Hikmah Ikan Asin buat Halimah

KEMURAHAN perairan Selat Bali tampaknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Melimpahnya hasil ikan telah menciptakan ribuan nelayan Muncar berkembang menjadi kaum penggagas di sektor ekonomi. Berkat kemurahannya pula, banyak nelayan Muncar bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.Tiap tahun, dari ratusan calon jemaah haji Banyuwangi, hampir 60% berasal dari kalangan nelayan Muncar. Pasalnya, saat-saat maritim Selat Bali memperlihatkan berkahnya, dalam sekejap nelayan Muncar bisa berkembang menjadi jutawan.

Hikimah itu juga dirasakan Halimah, pengusaha ikan asin di Muncar. Halimah yang lahir 57 tahun kemudian ini menuaikan ibadah haji bersama suaminya, Supri, dua tahun lalu. Sebenarnya, tempat perjuangan ikan asin yang digeluti semenjak 25 tahun kemudian itu terlihat sederhana. Bersama anggota keluarganya, ibu yang mempunyai empat putra ini menghabiskan hari-harinya untuk menyebarkan perjuangan ikan asin.

Warga Desa Kedungrejo ini bercerita, sebelum sukses menggeluti perjuangan ikan asin, ia pernah menjadi buruh penguras perahu. Pekerjaan menyerupai itu dilakoninya semenjak remaja. Pekerjaan itu gres berhenti ketika bertemu Supri dan memutuskan untuk menikah. Pasangan muda ini tetap menentukan nelayan sebagai penyambung hidupnya. Mereka menciptakan banjang yang dibangun di tengah laut. Selama lima tahun, perjuangan banjang mereka makin membuahkan hasil.Sayang, perjuangan itu harus gulung tikar. Halimah memutuskan kembali ke daratan dan menjadi pedagang ikan. Dari perjuangan berdagang ikan ini, Halimah bisa menyisihkan hasil, sampai jadinya memutuskan untuk membuka perjuangan ikan asin di pinggir pantai bersama keluarganya.

Meski terkesan sederhana, perjuangan ikan asin yang digeluti Halimah sudah populer sampai ke beberapa daerah lain. Pedagang besar ikan asin dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, sering memesan ikan asin kepadanya.Jika ekspresi dominan panen ikan tiba, tiap hari Halimah bisa mengantongi hasil Rp 1.000.000 – 2.000.000. “Pada musin ikan, satu hari bisa menjual 10 ton ikan asin,” tuturnya.Saat ekspresi dominan hujan tiba, perjuangan ikan asinnya nyaris tidak bisa berkutik. Suatu kali, puluhan ton ikan yang siap dijemur terpaksa dialihkan ke pengusaha tepung karena terus membusuk. “Saya sempat menjual semua pelengkap untuk menutupi kerugian,” kenangnya.Di Muncar banyak sosok yang mempunyai kisah menyerupai Halimah. Dari ketekunannya mendapatkan berkah dewi laut, mereka bisa sukses dan mendapatkan apa yang diimpikan.

tags: , , ,